Minggu, 29 Mei 2011

"Virus"

Virus Itu Bernama: Pertanian Alami Para petani mitra Bina Desa kini sudah tak asing lagi dengan metode pertanian yang akrab dengan alam. Mereka menggusur pupuk urea dengan nutrisi-nutrisi dan mikroba buatan sendiri, sementara pestisida kimia juga telah mereka singkirkan dari sawah dan ladang.
Para petani telah lebih dari lima tahun mengenal pertanian yang mengandalkan input-input dari lingkungan sekitar tanpa bahan kimia ini. Beberapa di antaranya baru merasakan manfaatnya setelah bertahun-tahun dicemooh oleh sesama petani. Beberapa lagi beralih dari pertanian konvensional setelah ”kepepet” karena benih pabrikan, pestisida dan pupuk kimia sulit diperoleh dan harganya selangit.
Kini pertanian alami yang pertama kali diperkenalkan oleh Dr.Cho Han Kyu, pionir pertanian alami dari Korea Selatan, telah merebak ke seluruh Indonesia, seperti virus yang menjangkiti tubuh manusia dan menularkannya ke manusia lainnya. Namun virus yang ini membawa manfaat kepada banyak orang, tentu yang berani mencobanya. ”Sebelum saya mengenal Bina Desa, saya tidak tahu apa itu nutrisi, mikroba, dan sebagainya,” ujar Pak Bandi, petani dari Dusun Menawan, Kudus, Jawa Tengah. Baru tahun 2006 ia mengenal pertanian alami. Istrinya sangat mendorong upaya Pak Bandi bertani secara alami. Jika nutrisi habis, istrinya membantu mencari dan membuat nutrisi itu dari bahan-bahan alami. ”Sejak itu, saya menanam padi di ladang dengan pupuk kompos dari kotoran kambing dan sisa jamur”. Salah satu metoda alami yang dilakukan Pak Bandi adalah mencangkul tanah, meratakan dan melubanginya, kemudian memasukkan larutan-larutan alami ke dalamnya.
Dalam jarak 10 hari, ia menyemprotnya dengan nutrisi. Ia mengaku sulit melepaskan diri dari pupuk kimia mengingat tanahnya telah terbiasa dimanjakan dengan pupuk kimia. ”Tetapi sekarang, secara bertahap tanah saya mulai terbebas dari bahan kimia,” sambung Pak Bandi yang luas tanahnya 50 m2. Jika belum turun hujan, ia menaburi sawahnya dengan kompos, lalu meratakan dan memberinya air. Setelah itu bibit siap ditanam. Banyak hambatan yang ia temui, terutama karena banyak temannya yang mencemooh. Menurut mereka, tanaman tanpa pupuk kimia kelihatan gelap alias tidak subur. Tapi Pak Bandi tidak putus asa, ia terus bertani secara alami, suara suara itu dianggapnya sebagai angin lalu. Masalah hama walang sangit, kepik, dan ulat dapat diatasinya. Ia mengusir hama ulat dengan campuran cabe satu botol bekas minuman air kemasan (œ ons) dengan air sebanyak satu liter, lalu disemprotkan ke tanaman yang terserang hama. Dianggap Gila Sementara itu, di Desa Sumurgenuk, Lamongan, Jawa Timur seorang petani menggunakan pupuk organik ketika ia belum mengenal nutrisi dan mikroba. & rdquo;Saya hanya menggunakan bakteri pengurai untuk pupuk bokasi,” jelas Pak Musta’in yang pada 2003 mulai mempraktikkan pertanian alami.
Saat itu ia banyak menemui hambatan, orang-orang menganggapnya setengah gila. Tapi semangatnya tak pernah surut. Pak Musta’in pun berhasil mengembangkan bakteri pengurai yang berasal dari batang pisang busuk, dan menaburkannya ke tanah sehingga perlahan-lahan tanah rusak itu bisa pulih kembali dan hasil panennya bagus. & rdquo;Saya membuat pupuk probiotik dan menyemprotkannya pada tanaman, ternyata hasilnya luar biasa,” jelas Pak Musta & rsquo;in. Akhirnya setelah dua tahun mempraktikkan cara itu, masyarakat sekitar baru percaya.”Tanah 100 jengkal saya taburi pupuk kompos 1 kuintal dan nutrisi, hasil panen padinya bisa maksimal, dari 8 kuintal meningkat menjadi 12,5 kuintal”. Ia biasa membuat nutrisi dan menggunakannya di lahan demplot seluas dua hektar milik kepala desa.
Nutrisi itu dikemasnya untuk 3 tahapan, disemprotkan ke sawah untuk masa pertumbuhan tanaman, masa hamil dan berbuah. Hasilnya meningkat, sebelum menggunakan nutrisi, panennya hanya 13,5 kuintal. Setelah menggunakan nutrisi, panennya menjadi 17,5 kuintal. Bahan-bahan untuk pembuatan nutrisi dan pestisida nabati pun sangat mudah ia dapat dari lingkungan sekitar. Pak Musta’in kemudian membentuk kelompok tani organik yang berjumlah 25 orang. Sekarang anggotanya sudah 38 orang. Masyarakat di desanya, Babat dan di sekitarnya tertarik dengan upaya itu. Kini seluruh demplot dari 38 anggota itu tidak lagi menggunakan bahan kimia. Namun masyarakat tidak mudah percaya dengan konsep pertanian organik, karena mereka takut gagal panen. Sementara PPL (petugas penyuluh lapang) tidak mendukung sama sekali sistem pertanian ini.
Dukungan besar justru mengalir dari keluarga, terutama istri dan anaknya, seperti membuat nutrisi dan mengantarnya ke tempat pelatihan yang jauh dari desa, serta dukungan Pemda Kabupaten dan kecamatan berupa fasilitas mesin pencacah yang sampai saat ini digunakan bersama kelompok. & ldquo;Kelangkaan pupuk, membawa berkah tersendiri,” ujar Pak Musta’in. & ldquo; antusias beralih ke pupuk organik. Banyak teman yang meminta dilatih membuat pupuk dan pestisida nabati”. Di sebuah desa di Klaten, Jawa Tengah, Desa Mluih, Pak Paimin, seorang petani buruh mempraktikkan pertanian alami meski di lahan yang sangat terbatas. Ia juga membentuk kelompok tani alami yang rata-rata anggotanya adalah buruh.
Mereka mengontrak atau menyewa lahan, meski ada juga yang punya lahan sendiri. Oleh karena itu, motivasi mereka menjadi beragam. Anggota yang memiliki lahan sendiri sudah mempraktikkan pertanian alami secara penuh, mulai dari perendaman benih sampai penanaman. Lain halnya dengan petani buruh yang tidak punya lahan sendiri, motivasi mereka lebih rendah. Namun kelompok Pak Paimin terus mencoba pertanian alami, karena mereka sudah melihat hasilnya dari petani di daerah lain.
Bersahabat dengan Alam, Hasil Melimpah ”Tanaman singkong saya di lahan œ ha dengan pertanian alami, tanpa olah tanah, menghasilkan 10 ton lebih singkong selama 8 bulan sampai 1 tahun,” kata Pak Aten dari Desa Cikareo Selatan, Sumedang, Jawa Barat. Kacang bandung yang ia tanam secara organik, per lubangnya dapat menghasilkan œ kg kacang. ”Biasanya saya menanam 1.500 lubang, hasilnya 7,5 kuintal. Jarak tanaman antar lubang 50 cm ke kanan dan kekiri. Pupuk kandang yang saya berikan 1 lubang banyaknya 1 rantang lebih (sekitar setengah kilogram)”.Harga kacang bandung ini rata-rata Rp.1.500-2.000/kg. Keberhasilan ini pun tak luput dari peran istri Pak Aten di kebun. Sementara itu, Zaenab perempuan petani dan kawan-kawannya dari Desa Bohotokong, Luwuk,Sulawesi Selatan, tinggal
menebar benih saja untuk mendapatkan tanaman yang subur.“Di desa kami, pembibitan coklat cukup dengan abu saja,” ujar Zaenab. “Artinya, kami mencampur abu dengan tanah. Tidak perlu dipupuk. Itu cara alami. Bahkan panen jagung dengan pengolahan seperti ini, menghasilkan 500 kg jagung dari setiap 1 kg benih”. Di Bohotokong, setiap menjelang panen jagung, para tengkulak berdatangan dari kota langsung ke rumah petani, mencari harga jagung yang cocok. Bahkan jagung yang baru keluar bunganya saja sudah ada yang menawar sehargaRp.700.000/kg. Ketika panen coklat, pukul sembilan pagi coklat dijemur, lalu pada pukul 12 siang sudah datang pembeli. Ada tengkulak yang berani membayar Rp.12.000/kg coklat basah. ”Namun petani tidak bisa sembarang menyetujui harga itu,” jelas Zaenab. ”Karena kita belum melihat jagungnya, boleh jadi nanti petani yang rugi atau pembeli yang rugi”. Begitulah daya dobrak virus bernama ”Pertanian Alami” ini. Sekali ditularkan dari satu kelompok akan menyebar ke kelompok lainnya. Lingkungan dan sumber daya hayati kita harapkan makin terjaga kelestariannya, dan pada gilirannya masa depan petani dan pertanian semakin cerah dengan kedaulatan dan kemandirian bertani (disarikan dari notulensi Refleksi Natural Farming Jawa dan Sulawesi Selatan/3-5 Februari 2009/ink).
Bina Desa 

Baca selengkapnya...

NATURAL FARMING

Mempelajari latar belakang,dasar - dasar falsafah Pertanian Alami (Natural - Farming,NF)perlu dilakukan untuk mengetahui tentang Pertanian Alami itu sendiri Kami mulai dengan bercerita tentang diri kami.

Kami dilahirkan didesa dan saat itu kami seorang petani,perang korea pecah ketika kami berumur 14 tahun. Pada saat itu, kami mulai bergabung dengan dalam "Klub 4 H" dikotaku.Suwon "4H" merupakan singkatan kata head(kepala)heart(Hati)Hands(Tangan)Health(kesehatan). pada masa perang kami tidak bisa melanjutkan kesekolah menengah.tetapi kami beruntung dapat masuk ke SPMA pada umur 26 tahun.

Pendidikan sekolah adalah jauh dari kenyataan.
Sambil bersekolah, kami berternak sapi, babi dan ayam. Tetapi hal ini tidak berlangsung lama,sampai kami menyadari pelajaran yang diberikan disekolah tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di alam atau di tingkat petani Korea. Hal ini mengakibatkan kami merasakan kesedihan yang mendalam.Pada saat mengikuti ujian semester terakhir,kami bahkan mengumpulkan kertas kosong saja.itulah sebabnya kami tidak memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah di Universitas,dan memutuskan untuk membuka lahan pertanian.

kami mengumpulkan teman-temen dan kerabat untuk membuka "koperasi Pertanian Hwanam" kami berjuang untuk menemukan cara baru untuk bertani dan hidup. Setapak demi setapak kami melangkah jauh kedalam keajaiban NF.
Berkunjung kejepang
Sebelum hubungan diplomatik jepang korea normal kembali pada tahun 1965,kami berkesempatan berkunjung kejepang. Jepang menjadi tuan rumah olimpiade tahun 1964 mengembangkan industrinya sangat cepat berbagai kebijakan dibidang pertanian diterapkan dengan tujuan untuk merestrukturisasi pertanian dan meningkatkan produksi pangan.Disatu sisi,kami merasa iri hati dengan kemajuan Jepang,tetapi disisi lain kami takut orang berbondong - bondong pergi ke kota - kota.Pada itu jepang tidak pernah membayangkan bahwa komuitasnya akan menjadi tempat yang sunyi, dimana para pemuda tidak dapat menemui istrinya.

Kami Berpraduga bahwa tren pertanian jepang dapat berpengaruh terhadap pertanian pedesaan korea.Oleh karena itu kami belajar pertanian jepang secara mendalam.Kami berkunjung jepang lebih dari 60 kali,mulai Hokkaido ke Okinawa;mulai dari bercocok tanam hingga prosesing dan pendristribuannya kedapur.Selama penjelajahannya kami bertemu dengan tiga orang guru besar yang terkenal sekarang ketiganya telah meninggal. Mereka telah memberikan pelajaran yang menjadi dasar untuk NF.

Guru pertama,Yamaguchi Miozo
Guru yang pertama kali kami jumpai adalah Yamaguchi Miozo,pendiri faham yamagishme. Beliu bukan ahli teori,tetepi seorang petani yang sangat menyanyangi dan menghargai kehidupan.Beliu menegaskan hak-hak azasi ayam sebelum memproduksinya.Bagi beliau,semangat dan akal lebih penting dari pada teknologi dan manajemen.Ajaranya memiliki implikasi terhadap pengetahuan modern yang hanya memperlakukan kehidupan manusia sebagai mesin atau benda mati.

Guru yang kedua,Shibada Genshi
Kami mendapat pelajaran dari kedua kami melalui nenek Gomei dan nyonya shibada,Pada bulan oktober 1965,kami berkunjung kerumahnya yang merupakan rumah petani sederhana dengan sawah dan ladang. di tengah ladang terdapat sebuah gubug kecil untuk membuat dan menyimpan enzim.

Di dalam gubug terdapat banyak tong-tong(barrel) kayu cedar yang penuh dengan dengan enzim. Salah satu tong berisi kacang buncis yang telah di pangang (diasap)10 tahun lalu. Kami tidak percaya ternyata benih tersebut masih dapat tumbuh. Kami cubit pipi kami ternyata kami tidak sedang mimpi. Nyonya Shimbada mengatakan bahwa di antara berbagai jenis pohon . Pohon Cedar jepang adalah yang terkuat, sedangkan diantara buah-buahan. Clemtais adalah yang terkuat.

Dari pak guru shimbada kami membuka mata untuk melihat dunia enzim dan mikroorganisme yang luar biasa. Kami masih menghargai bukunya “makna sesunguhnya dari enzim” yang dengan susah payah kami perolehnya. Buku ini merupakan harta karun rumahku.

Guru ke-tiga Onio Ueyes.
Mendiang guru ketiga adalah Onio Ueyes yang pertama kali membentuk kultivar Kyioho dijepang. Kami telah membaca berpuluh kali bukunya yang berjudul “Teknologi baru untuk ber cocok tanam”. Buku ini penuh dengan materi baru yang tidak pernah kami jumpai di tempat lain. Penjelasan logika yang disampaikan secara langsung tentang perilaku dan fisiologi tanaman memberikan kebijaksanaan bagi kami untuk melihat tanaman mengunakan perpektif baru. Teori tentang siklus (daur ) makanan (nutrisi)memungkin diri kami untuk berkomunikasi dengan tanaman.

Ketika kami mebaca bukunya, kami menemukan fakta yang menarik “ketika seorang wanita hamil, ia mengalami masa mengidam (Morning sicknes). Mengapa ? kejadian ini sebagai akibat terjadinya ganguan pada keseimbangan nutrisi di dalam tubuhnya. Di dalam wanita terdapat organisme hidup (janin) yang memerlukan berbagai jenis nutrisi. Sementara itu, wanita itu tidak memenuhinya dengan segera. yang diperlukan wanita yang rasanya masam dan ini termasuk asam fosfat(P.

Kemudian kami menyadari bahwa pertumbuhan tunas pada tanaman sama pada fenomena mengidam pada manusia, kami mencoba dengan asam fosfat (p) pada periode ini hasilnya sangat menajubkan. Tanaman cabai atau terong yang sebelumnya hanya menghasilkan satu buah, kemudian menghasilkan 4-5 buah. Kami menemukan bahwa pemberian yang sesuai dengan siklus nutrisinya dapat membuat tanaman terus menerus. Hal yang serupa terjadi pada ternak.

Mengabungkan yang tiga dan mengembangkan lebih lanjut.
Kami sangat beruntung berjumpa dengan guru besar kami, lalu kami membayangkan jika ide-ide, pengamatan dan kasih sayangnya yang besar dari tiga beliu kami satukan. Gambaran besar apa yang akan terjadi? Oleh karena itu, dengan kemampuan yang terbatas dan sederhana, kami telah berusaha keras menyatukan selama 40 tahun, kami telah melakukan uji coba (trial and error) sehingga kami menemukan NF. Kami mengembangkan iklim yang sesuai untuk iklim korea. Tetapi kami sekarang kami mengetahui bahwa NF dapat diterapkan disegala iklim.

Kami dilahirkan dari keluarga konghucu yang taat. Masa kanak kanak kami tumbuh dengan ajaran konghucu, ketika remaja menjadi seorang budha, dan sekarang menjadi seorang kristen yang menerapkan injil dalam pertanian.
Mengapa kami memilih NF ? karena kami bertahan hidup dan harus memperoleh harga diri (sovereigriy) sebagai petani, Kami menyimpulkan bahwa petani tidak akan dapat mempertahankan kehidupan dan kesehatanya dengan mengunakan pertanian konvensional serta teori dan kebijakan agroekonomi.
Biarkan kami bertanya : “Apakah ada pertnian yang khas korea?atau metode yang khas jepang? Atau apakah ada metode pertanian yang mengasuh dan memperhatikan komunitas lokal khas kita? Marilah kita melihat sejarah pertanian korea dan teknologi pertanianya.

Metode pertanian tradisional mulai menghilang dengan masuknya militer dan pengusaha yang korup pada masa dinasti Chosun. Metode pertanian yang mulai mengeksploitasi lahan mulai meluas. Dengan alasan untuk meningkatkan produktifitas, petani dipaksa untuk mengikuti gelombang perubahan selama 40 tahun, metode ini diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan keturunannya percaya bahwa ini adalah metode pertanian yang sebenarnya.


Kemudian dengan berakhinya perang dunia ke II, budaya dan pola pikir barat mulai masuk ke korea, eksploitasi pertanian berganti : saat ini dengan teknik untuk penghancuran dan pembunuhan.

Para petani elit telah didik dengan dasar pendidikan yang dimasuki modal komersial terikat untuk mempelajari akademik yang memaksa petani dan konsemen membayar lebih mahal, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Pada saat ini, sesuatu yang asing dianggap sesuatu yang baik. Mereka yang beruhasa untuk mengembangkan sesuatu yang bersifat pribumi (lokal,indigenous), sesuatu yang dapat memberikan keuntungan yang sesungguhnya bagi petani,dan sesuatu yang mencintai daerahnya,dianggap bodoh.

Telah lama petani menyerahkan kehormatannya (sovereignty).Padahal sebenarnya mereka belum pernah membayar satu senpun untuk membayar biaya penelitiannya. Marilah kita pikirkan pertanian yang merupakam tulang pungung kehidupan kita – telah kehilangan arah.

Pertanian baru untuk kehidupan.
NF bersaksi untuk menolong para petani, konsumen, dan untuk menolong bumi. Semoga berhasil baik. Tetapi beberapa ahli mengenyampingkan hasilnya - harapan untuk masa depan – dan bahkan merusaknya.

Kami ingat seorang ahli jepang yang dengan polos berkata dalam suatu seminar baru – baru ini di Seoul: “Pertanian Organik adalah suatu impia dan hanya akan menghancurkan bangsa “, yang benar saja. Siapa yang menghancurkan pertanian bangsa? Mengapa komunitas pedesaan kita hancur jika tidak ada kesalahan dalam sistem pertanian mereka?

Tidak ada teori yang melampui hasilnya. NF menghasilkan produk yang mengagumkan, sekarang sudah saatnya kursi goyang teori,teknologi,disiplin,dan agronomi ekonomi pertanian yang telah membawa kesengsaraan kepada petani ditinjau kembali.
Metode baru dan yang praktis perlu dicari dan agro -ekonomi harus melindungi kehidupan para petani. Dengan mengamati hukum alam, petani harus dapat menikmati hidupnya dan memperoleh pendapatan yang memadai.

Mempelajari latar belakang,dasar - dasar falsafah Pertanian Alami (Natural - Farming,NF)perlu dilakukan untuk mengetahui tentang Pertanian Alami itu sendiri Kami mulai dengan bercerita tentang diri kami. Kami dilahirkan didesa dan saat itu kami seorang petani,perang korea pecah ketika kami berumur 14 tahun. Pada saat itu, kami mulai bergabung dengan dalam "Klub 4 H" dikotaku.Suwon "4H" merupakan singkatan kata head(kepala)heart(Hati)Hands(Tangan)Health(kesehatan). pada masa perang kami tidak bisa melanjutkan kesekolah menengah.tetapi kami beruntung dapat masuk ke SPMA pada umur 26 tahun. Pendidikan sekolah adalah jauh dari kenyataan. Sambil bersekolah, kami berternak sapi, babi dan ayam. Tetapi hal ini tidak berlangsung lama,sampai kami menyadari pelajaran yang diberikan disekolah tidak sesuai dengan kenyataan yang ada di alam atau di tingkat petani Korea.

Hal ini mengakibatkan kami merasakan kesedihan yang mendalam.Pada saat mengikuti ujian semester terakhir,kami bahkan mengumpulkan kertas kosong saja.itulah sebabnya kami tidak memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah di Universitas,dan memutuskan untuk membuka lahan pertanian. kami mengumpulkan teman-temen dan kerabat untuk membuka "koperasi Pertanian Hwanam" kami berjuang untuk menemukan cara baru untuk bertani dan hidup. Setapak demi setapak kami melangkah jauh kedalam keajaiban NF.

Berkunjung kejepang Sebelum hubungan diplomatik jepang korea normal kembali pada tahun 1965,kami berkesempatan berkunjung kejepang. Jepang menjadi tuan rumah olimpiade tahun 1964 mengembangkan industrinya sangat cepat berbagai kebijakan dibidang pertanian diterapkan dengan tujuan untuk merestrukturisasi pertanian dan meningkatkan produksi pangan.Disatu sisi,kami merasa iri hati dengan kemajuan Jepang,tetapi disisi lain kami takut orang berbondong - bondong pergi ke kota - kota.Pada itu jepang tidak pernah membayangkan bahwa komuitasnya akan menjadi tempat yang sunyi, dimana para pemuda tidak dapat menemui istrinya.

Kami Berpraduga bahwa tren pertanian jepang dapat berpengaruh terhadap pertanian pedesaan korea.Oleh karena itu kami belajar pertanian jepang secara mendalam.Kami berkunjung jepang lebih dari 60 kali,mulai Hokkaido ke Okinawa;mulai dari bercocok tanam hingga prosesing dan pendristribuannya kedapur.Selama penjelajahannya kami bertemu dengan tiga orang guru besar yang terkenal sekarang ketiganya telah meninggal. Mereka telah memberikan pelajaran yang menjadi dasar untuk NF. Guru pertama,Yamaguchi Miozo Guru yang pertama kali kami jumpai adalah Yamaguchi Miozo,pendiri faham yamagishme. Beliu bukan ahli teori,tetepi seorang petani yang sangat menyanyangi dan menghargai kehidupan.Beliu menegaskan hak-hak azasi ayam sebelum memproduksinya.Bagi beliau,semangat dan akal lebih penting dari pada teknologi dan manajemen.Ajaranya memiliki implikasi terhadap pengetahuan modern yang hanya memperlakukan kehidupan manusia sebagai mesin atau benda mati. Guru yang kedua,Shibada Genshi Kami mendapat pelajaran dari kedua kami melalui nenek Gomei dan nyonya shibada,Pada bulan oktober 1965,kami berkunjung kerumahnya yang merupakan rumah petani sederhana dengan sawah dan ladang. di tengah ladang terdapat sebuah gubug kecil untuk membuat dan menyimpan enzim. Di dalam gubug terdapat banyak tong-tong(barrel) kayu cedar yang penuh dengan dengan enzim. Salah satu tong berisi kacang buncis yang telah di pangang (diasap)10 tahun lalu. Kami tidak percaya ternyata benih tersebut masih dapat tumbuh. Kami cubit pipi kami ternyata kami tidak sedang mimpi. Nyonya Shimbada mengatakan bahwa di antara berbagai jenis pohon . Pohon Cedar jepang adalah yang terkuat, sedangkan diantara buah-buahan. Clemtais adalah yang terkuat. Dari pak guru shimbada kami membuka mata untuk melihat dunia enzim dan mikroorganisme yang luar biasa. Kami masih menghargai bukunya “makna sesunguhnya dari enzim” yang dengan susah payah kami perolehnya. Buku ini merupakan harta karun rumahku. Guru ke-tiga Onio Ueyes. Mendiang guru ketiga adalah Onio Ueyes yang pertama kali membentuk kultivar Kyioho dijepang. Kami telah membaca berpuluh kali bukunya yang berjudul “Teknologi baru untuk ber cocok tanam”. Buku ini penuh dengan materi baru yang tidak pernah kami jumpai di tempat lain. Penjelasan logika yang disampaikan secara langsung tentang perilaku dan fisiologi tanaman memberikan kebijaksanaan bagi kami untuk melihat tanaman mengunakan perpektif baru. Teori tentang siklus (daur ) makanan (nutrisi)memungkin diri kami untuk berkomunikasi dengan tanaman. Ketika kami mebaca bukunya, kami menemukan fakta yang menarik “ketika seorang wanita hamil, ia mengalami masa mengidam (Morning sicknes). Mengapa ? kejadian ini sebagai akibat terjadinya ganguan pada keseimbangan nutrisi di dalam tubuhnya. Di dalam wanita terdapat organisme hidup (janin) yang memerlukan berbagai jenis nutrisi. Sementara itu, wanita itu tidak memenuhinya dengan segera. yang diperlukan wanita yang rasanya masam dan ini termasuk asam fosfat(P. Kemudian kami menyadari bahwa pertumbuhan tunas pada tanaman sama pada fenomena mengidam pada manusia, kami mencoba dengan asam fosfat (p) pada periode ini hasilnya sangat menajubkan.

Tanaman cabai atau terong yang sebelumnya hanya menghasilkan satu buah, kemudian menghasilkan 4-5 buah. Kami menemukan bahwa pemberian yang sesuai dengan siklus nutrisinya dapat membuat tanaman terus menerus. Hal yang serupa terjadi pada ternak. Mengabungkan yang tiga dan mengembangkan lebih lanjut. Kami sangat beruntung berjumpa dengan guru besar kami, lalu kami membayangkan jika ide-ide, pengamatan dan kasih sayangnya yang besar dari tiga beliu kami satukan. Gambaran besar apa yang akan terjadi? Oleh karena itu, dengan kemampuan yang terbatas dan sederhana, kami telah berusaha keras menyatukan selama 40 tahun, kami telah melakukan uji coba (trial and error) sehingga kami menemukan NF. Kami mengembangkan iklim yang sesuai untuk iklim korea. Tetapi kami sekarang kami mengetahui bahwa NF dapat diterapkan disegala iklim. Kami dilahirkan dari keluarga konghucu yang taat. Masa kanak kanak kami tumbuh dengan ajaran konghucu, ketika remaja menjadi seorang budha, dan sekarang menjadi seorang kristen yang menerapkan injil dalam pertanian. Mengapa kami memilih NF ? karena kami bertahan hidup dan harus memperoleh harga diri (sovereigriy) sebagai petani, Kami menyimpulkan bahwa petani tidak akan dapat mempertahankan kehidupan dan kesehatanya dengan mengunakan pertanian konvensional serta teori dan kebijakan agroekonomi. Biarkan kami bertanya : “Apakah ada pertnian yang khas korea?atau metode yang khas jepang? Atau apakah ada metode pertanian yang mengasuh dan memperhatikan komunitas lokal khas kita? Marilah kita melihat sejarah pertanian korea dan teknologi pertanianya.

Metode pertanian tradisional mulai menghilang dengan masuknya militer dan pengusaha yang korup pada masa dinasti Chosun. Metode pertanian yang mulai mengeksploitasi lahan mulai meluas. Dengan alasan untuk meningkatkan produktifitas, petani dipaksa untuk mengikuti gelombang perubahan selama 40 tahun, metode ini diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, dan keturunannya percaya bahwa ini adalah metode pertanian yang sebenarnya. Kemudian dengan berakhinya perang dunia ke II, budaya dan pola pikir barat mulai masuk ke korea, eksploitasi pertanian berganti : saat ini dengan teknik untuk penghancuran dan pembunuhan. Para petani elit telah didik dengan dasar pendidikan yang dimasuki modal komersial terikat untuk mempelajari akademik yang memaksa petani dan konsemen membayar lebih mahal, baik secara sadar maupun tidak sadar. Pada saat ini, sesuatu yang asing dianggap sesuatu yang baik. Mereka yang berusaha untuk mengembangkan sesuatu yang bersifat pribumi (lokal,indigenous), sesuatu yang dapat memberikan keuntungan yang sesungguhnya bagi petani,dan sesuatu yang mencintai daerahnya,dianggap bodoh.

Telah lama petani menyerahkan kehormatannya (sovereignty).Padahal sebenarnya mereka belum pernah membayar satu senpun untuk membayar biaya penelitiannya. Marilah kita pikirkan pertanian yang merupakam tulang pungung kehidupan kita – telah kehilangan arah. Pertanian baru untuk kehidupan. NF bersaksi untuk menolong para petani, konsumen, dan untuk menolong bumi. Semoga berhasil baik. Tetapi beberapa ahli mengenyampingkan hasilnya - harapan untuk masa depan – dan bahkan merusaknya. Kami ingat seorang ahli jepang yang dengan polos berkata dalam suatu seminar baru – baru ini di Seoul: “Pertanian Organik adalah suatu impia dan hanya akan menghancurkan bangsa “, yang benar saja. Siapa yang menghancurkan pertanian bangsa? Mengapa komunitas pedesaan kita hancur jika tidak ada kesalahan dalam sistem pertanian mereka? Tidak ada teori yang melampui hasilnya. NF menghasilkan produk yang mengagumkan, sekarang sudah saatnya kursi goyang teori,teknologi,disiplin,dan agronomi ekonomi pertanian yang telah membawa kesengsaraan kepada petani ditinjau kembali. Metode baru dan yang praktis perlu dicari dan agro -ekonomi harus melindungi kehidupan para petani. Dengan mengamati hukum alam, petani harus dapat menikmati hidupnya dan memperoleh pendapatan yang memadai. 15 Pebruari 1995 CHO Han Kyu Ketua Asosiasi Pertanian Alami Korea.

Baca selengkapnya...

“ Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) ”

Kelapa merupakan salah satu komoditas perkebunan yang banyak sekali kegunaannya karena baik dari hasil utama maupun limbahnya dapat dimanfaatkan sebagai produk-produk yang bernilai ekonomis. Sampai saat ini pemanfaatan produk kelapa di tingkat petani masih terbatas di jual dalam bentuk segar dan diolah menjadi minyak kelapa secara tradisional. Di daerah-daerah yang sulit sarana transportasinya, harga kelapa sangat murah sehingga hanya dimanfaatkan sebatas untuk keperluan rumah tangga atau hanya dibiarkan begitu saja.
Usaha peningkatan pendapatan petani kelapa dapat dilakukan dengan diversifikasi produk olahan dalam skala rumah tangga. Salah satu produk yang dapat dihasilkan dari buah kelapa antara lain Virgin Coconut Oil (VCO) atau minyak kelapa murni.
VCO merupakan hasil olahan kelapa yang baru berkembang dengan nilai ekonomi yang sangat tinggi, karena manfaatnya begitu besar untuk kesehatan tubuh manusia. Minyak kelapa murni merupakan bahan baku industri pangan, farmasi dan kosmetik terutama untuk perawatan tubuh. Di samping itu, hasil penelitian terbaru telah membuka tabir kerahasiaan alam yang terkandung dalam buah kelapa, bahwa minyak kelapa murni yang beraroma gurih dan lembut itu dapat meningkatkan metabolisme tubuh serta menanggulangi berbagai penyakit.
Minyak kelapa murni tidak mudah tengik karena kandungan asam lemak jenuhnya tinggi sehingga proses oksidasi tidak mudah terjadi. Namun, bila kualitas VCO rendah, proses ketengikan akan berjalan lebih awal. Hal ini disebabkan oleh pengaruh oksigen, keberadaan air dan mikroba yang akan mengurai kandungan asam lemak yang berada di dalam VCO menjadi komponen lain.
Ada beberapa cara pembuatan VCO untuk skala rumah tangga. Cara pemrosesan minyak kelapa yang banyak dikembangkan adalah penggilingan basah dan fermentasi (enzimatis).
Pembuatan VCO dengan cara enzimatis merupakan pemisahan minyak dalam santan tanpa pemanasan. Enzim yang digunakan dapat berupa enzim bromelin (pada nanas) atau enzim papain (daun pepaya), enzim protease (kepiting sungai) dipilih salah satu dari ketiga enzim tersebut. Pembuatan VCO dengan enzimatis dikelompokkan menjadi tiga, yaitu pembuatan santan, pembuatan VCO, dan penyaringan.
VCO yang dihasilkan dari proses enzimatis memiliki keunggulan sebagai berikut : 1) VCO berwarna bening, seperti kristal karena tidak mengalami proses pemanasan; 2) Kandungan asam lemak dan antioksidan di dalam VCO tidak banyak berubah sehingga khasiatnya tetap tingg; 3) Tidak mudah tengik karena komposisi asam lemaknya tidak banyak berubah; 4)Cukup aplikatif bila diterapkan di tingkat petani karena menggunakan teknologi dan peralatan yang sederhana; 5) Tidak membutuhkan biaya tambahan yang terlalu mahal karena umumnya daun pepaya atau nanas dijual dengan harga murah; 6) Rendemen yang dihasilkan cukup tinggi, yaitu dari 10 butir kelapa akan diperoleh sekitar 1.100 ml VCO.
Kelemahan dengan cara enzimatis yaitu membutuhkan waktu yang sangat lama dalam proses denaturasi protein untuk memisahkan minyak dari ikatan lipoprotein yaitu sekitar 20 jam.
Tahapan Pembuatan VCO Secara Enzimitas
Bahan: 30 bahan kelapa yang sudah tua, 3 buah nanas atau 6 lembar daun pepeya.
Alat: Parut, pisau, kayu pengaduk, ember, selang, kain saring, batu zeolit, kertas saring, gayung, dan plastik.
Cara membuat:
Membuat santan kelapa
• Cuci daging kelapa lalu haluskan dengan parut.
• Campurkan air ke dalam hasil parutan dengan perbandingan 10:6 (artinya, dari hasil parutan 10 butir kelapa ditambahkan 6 liter air, jangan lebih atau kurang).
• Remas dan saring santan menggunakan kain saring.
Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO)
• Tampung santan kelapa dalam wadah transparan dan diamkan sekitar satu jam hingga terbentuk kanil (krim) pada bagian atas dan krim yang terlarut dalam air pada bagian bawah.
• Buang air pada bagian dasar wadah menggunakan selang air.
• Kupas nanas dan iris tipis daging buahnya, ikutkan juga bonggolnya.
• Parut nanas hingga halus, masukkan ke dalam wadah yang telah berisi krim santan.
• Jika menggunakan daun pepaya, iris-iris kecil menggunakan pisau agar getahnya keluar.
• Campur rata santan dan bahan enzim dengan cara diaduk.
• Tutup wadah tersebut agar tidak terkena kotoran, diamkan selama 20 jam.
• Setelah 20 jam akan terbentuk tiga lapisan, yaitu minyak, blondo, dan air.
• Buang air yang berada di dasar wadah menggunakan selang.
• Ambil lapisan minyak paling atas dengan sendok besar, usahakan blondo (warna putih) tidak terikut.
Penyaringan
• Lakukan penyaringan dengan beberapa tahap, yaitu menggunakan kain saring, zeolit, dan kertas saring.

Baca selengkapnya...

Pakan Fermentasi Untuk Kambing Etawa

Agar susu kambing yang dihasilkan tidak beraroma kambing ( prengus ), Lembah Gogoniti Farm meramu pakan dengan cara difermentasi. Di samping mengurangi pakan hijauan sebagai pakan utama kambing, Pakan fermentasi mempunyai keuntungan yaitu:

* Membuat penggemukan kambing semakin cepat
* Memperbaiki pencernakan kambing
* Lebih kebal terhadap penyakit
* Meningkatkan produksi susu
* Menjadikan susu kambing menjadi tidak beraroma kambing(prengus)
* Mengurangi bau
* Meningkatkan nafsu makan
* Kotoran menjadi lebih sedikit karena pakan menjadi tercerna dengan baik

Untuk kali ini saya akan membahas fermentasi dari pakan kambing ettawa dari bahan:

1. kacang hijau atau sebagai penggantinya jagung giling
2. polard (bekatul gandum)
3. kulit kedelai
4. tetes tebu
5. ampas tahu
6. cattlegro

Untuk tempat fermentasi harus kedap udara (hampa udara)

Langkah-langkahnya yaitu:

1. Masukkan kacang hijau yang telah dibersihkan ke dalam ember. Setelah itu tambahkan ampas tahu, polard, kulit kedelai, dan ampas tahu.
2. Tuangkan 2 cc cattlegro ke dalam air bersih 1 liter, kemudian masukkan tetes tebu ke dalam 1 liter air tersebut dan aduk hingga melarut.
3. Campurkan 1 liter air yang telah diberi cattlegro dan tetes tebu ke dalam ember dan campurkan hingga merata
4. Tutup ember dengan rapat sampai tidak ada udara yang masuk ke dalam ember, dan biarkan selama seminggu

Setelah seminggu buka tutup ember, apabila bau pakan menjadi harum berarti proses fermentasi pakan telah berhasil, namun apabila pakan tidak berbau harum kemungkinan takaran komposisi pakan belum tepat. Selamat mencoba.

Baca selengkapnya...

Senin, 11 April 2011

REZEKI BESAR PETANI DARI PADI ORGANIK ......


 Panen raya padi di Desa Embawang, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara anim, Sumatera Selatan, musim panen ini benar-benar diliputi kegembiraan. Tak hanya hasilnya yang jauh lebih tinggi dari panen-panen sebelumnya, beras yang diperoleh pun dihargai jauh lebih tinggi dari biasanya.
Cucuran peluh para petani selama mempraktikkan pertanian padi organik dengan sistem intensifikasi padi organik selama delapan bulan ini pun menuai hasil yang memuaskan. Beberapa petani yang tergabung dalam kelompok tani system of rice intensification (SRI) Desa Embawang itu ibarat mendapat berkah tak terduga pada panen kali ini. Arsan, Komri, dan Feri, misalnya, memperoleh Rp 30 juta di tempat yang akan dibagi bertiga. .
Sebanyak dua ton beras organik panenan mereka langsung dib orong pejabat dari Kementerian Pertanian yang hadir dalam acara panen raya perdana padi organik SRI Desa Embawang, Sabtu (12/3/2011).
Tak kurang dari Menteri Pertanian Suswono, Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, Bupati Muara Enim Muzakir Sai Sohar, dan sejumlah pejabat perusahaan hulu minyak dan gas bumi Medco hadir dalam acara panen raya tersebut. .
Setiap kilogram beras organik ketiga petani itu dihargai Rp 10.000-Rp 15.000 atau jauh lebih tinggi dari beras yang dihasilkan dari metode bertani konvensional yang harganya hanya berkisar Rp 6.000-Rp 7.000.
Petani lainnya, Erwan, sudah menerima pesanan sebanyak dua ton beras organik dari Bupati Muara Enim Muzakir Sai Sohar. Nasi dari beras organik dari Desa Embawang patut dihargai lebih tinggi. Selain pulen, aroma beras tersebut sedap saat dicecap. .
Panen kali ini merupakan panen perdana padi organik dengan sistem SRI di Desa Embawang. Dari sekitar 100 petani di Desa Embawang, terdapat 42 petani yang menerapkan sistem padi organik SRI. Sistem ini baru pertamak ali diterapkan di desa yang sebagian besar penduduknya bertani. Luas lahan mereka mencapai 38,5 hektar dari sekitar 138,5 hektar lahan sawah di Desa Embawang. .

Sistem bertani padi yang ramah lingkungan dan tanpa bahan kimia itu membuahkan hasil. Setiap peta ni padi organik SRI memperoleh hasil sebanyak 6-12 ton setiap hektarnya. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari hasil bertani padi dengan cara konvensional yang banyak bergantung pada pupuk dan obat-obatan kimia.
Kalau bertani konvesional, hasilnya rata-rata hanya 4,8 ton per hektar. Panen kali ini memang benar-benar berhasil, kata Maman Suherman (50) salah satu petani Desa Embawang yang juga Ketua Badan Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Pandan Enim. .
Dengan sistem padi organik SRI ini, para petani tidak menggunakan pupuk maupun pemberantas hama kimia. Mereka mengandalkan kompos, sejenis nutrisi tanaman organik yang disebut MOL (mikro-organisme lokal), dan kerja keras. Untuk setiap hektar sawah, dibutuhkan tujuh ton pupuk kompos yang didapat dengan mengolah kotoran hewan dan sampah organik. .

Untuk itu, para petani memang harus bekerja lebih keras. Dengan pupuk kimia, sistem pemupukan cukup ringkas. Namun dengan pupuk kompos, para petani harus mau bersusah payah mengumpulkan kotoran hewan, mencac ah sampah organik, dan membawanya tujuh ton pupuk kompos ke sawah. Kesulitan utama muncul karena mereka kesulitan memperoleh kotoran hewan sehingga harus membeli dari desa tetangga. Di Desa Embawang sendiri, tak banyak penduduk memiliki ternak. .

Selain itu, para petani juga harus telaten membuat MOL yang dihasilkan dari fermentasi alami bahan-bahan organik seperti bonggol pisang, rebung, sisa nasi, maupun sampah daun-daunan. Selain itu, sawah sistem SRI pun harus lebih sering disiangi dari gulma. "Karena sawah SRI tidak digenangi air, gulma menjadi lebih sering tumbuh. Untuk ini mudah saja, kami melibatkan istri-istri kami untuk ikut turun ke sawah dan menyiangi setiap dua hari sekali," ujar Arsan. .

Mengembalikan ekosistem alami
Sistem SRI adalah teknik budida ya padi yang mampu meningkatkan produktifitas padi dengan cara mengembalikan sifat dan ekosistem alami tanaman, tanah, air dan unsur hara. Berbeda dengan penanaman konvensional, padi ditanam dengan jarak lebih renggang satu sama lainnya. Sawah pun tak dig enangi air seperti biasanya. .

Saat penanaman bibit, satu lubang cukup diisi dengan satu bibit padi. Hasilnya, padi dapat menghasilkan lebih banyak anakan, batang padi tumbuh lebih besar, hemat air hingga 60 persen, hemat bibit hingga lima kilogram setiap hek tarnya, dan hasil panen lebih banyak. Sistem padi organik SRI ini juga lebih tahan hama karena adanya keseimbangan jumlah hewan pengganggu dan pemangsanya. .

"Wereng dan walang sangit ada, tapi jumlahnya tidak banyak sehingga tidak jadi hama karena di sawah kami pun banyak katak, capung, dan laba-laba. Mereka ini berperan sebagai predator hama. Kalau di sawah konvensional, katak, capung, dan laba-laba ikut mati kena semprot pestisida," kata Arsan. .

Para petani di Desa Embawang mulai mengenal sistem SRI sejak Agustus tahun 2010. Saat itu, sebanyak 80 petani dan penyuluh pertanian Pandan Enim dilatih untuk mengembangkan sistem pertanian padi organik SRI ini yang difasilitasi oleh dana tanggungjawab sosial (CSR) perusahaan minyak dan gas PT Medco Energi.
Para pelatih merupakan praktisi padi organik SRI yang telah berhasil mempraktikkanya di Ciamis, Jawa Barat. Pendamping petani Embawang yang juga Pakar pertanian padi organik SRI dari Jawa Barat, Alik Sutaryat menuturkan, metode SRI ini pertama kali ditemukan di M adagaskar sekitar tahun 1980-an oleh rohaniwan asal Prancis, Henri de Laulanie, SJ. Sistem ini telah berhasil diterapkan di berbagai daerah. Di Garut dan Aceh, sistem padi organik SRI ini mampu menghasilkan 11 ton setiap hektarnya. .

Melihat keberhasilan panen ini, Pemerintah Kabupaten Muara Enim Muzakir Sai Sohar berniat mengembangkannya. Musim tanam kedua tahun ini, sistem bertani padi organik SRI akan ditularkan ke enam desa yaitu Tanjung Agung, Muara Emil, Pandan Enim, Lesung Batu, Lubuk Nipis dan Tanjung Bulan. Luasan sawah organik SRI ditargetkan 20 hektar di setiap desa.
Menteri Pertanian Suswono pun menyatakan dukungannya untuk pengembangan pertanian padi organik SRI ini. Sistem bertani ini dinilai penting untuk dikembangkan ke berbagai daerah di Indonesia guna mencegah krisis pangan yang telah menghadang di depan mata.
Tidak saja untuk kegembiraan mereka sendiri, kerja keras pada petani di Desa Embawang telah membuka mata banyak pihak akan tingginya potensi pertanian yang sehat dan ramah lingkungan . 

Baca selengkapnya...

Kamis, 31 Maret 2011

Kombinasi Teh Hijau dan Lidah Buaya, Kulit Sehat Stres Lenyap



 Anda yang menginginkan kulit halus, segar, dan sehat dapat memanfaatkan Aloe Vera atau yang kerap kita kenal dengan sebutan lidah buaya. Bahkan manfaat ini dapat dikombinasi dengan manfaat lain yang didapat dari teh hijau yang menurut dr Sonia Wibisono mengandung antioksidan.
"Antioksidan itu bermanfaat mengurangi risiko sakit jantung, kanker, dan memperlancar pencernaan," kata Sonia di Jakarta.
Kombinasi green tea dan Aloe Vera ini juga bisa membantu mengatasi stres. "Stres yang biasanya timbul karena jauhnya jarak antara harapan dan kenyataan bisa berimbas pada fisik. Orang bisa kena masalah jantung, otot, perut atau lambung, psikologis sehingga penampilan tubuh kurang maksimal," kata Sonia.
Namun, jangan lupa mengonsumsi kedua bahan yang bisa didapat dari satu minuman ini tak menjamin Anda akan sehat bila tak diimbangi pola hidup yang sehat, seperti olahraga dan konsumsi makanan sehat. Sonia mengingatkan betapa pentingnya olahraga minimal 15 menit tiap hari agar kita sehat.

Baca selengkapnya...

Lidah Buaya Bantu Atasi Diabetes


KOMPAS.com — Selain menyuburkan rambut, lidah buaya juga dikenal berkhasiat untuk mengobati sejumlah penyakit. Di antaranya diabetes melitus dan serangan jantung.
Lidah buaya atau Aloevera adalah salah satu tanaman obat yang berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Tanaman ini sudah digunakan bangsa Samaria sekitar tahun 1875 SM.  Bangsa Mesir kuno sudah mengenal khasiat lidah buaya sebagai obat sekitar tahun 1500 SM. Berkat khasiatnya, masyarakat Mesir kuno menyebutnya sebagai tanaman keabadian.
Seorang peracik obat-obatan tradisional berkebangsaan Yunani bernama Dioscordes, menyebutkan bahwa lidah buaya dapat mengobati berbagai penyakit. Misalnya bisul, kulit memar, pecah-pecah, lecet, rambut rontok, wasir, dan radang tenggorokan.
Dalam laporannya, Fujio L. Panggabean, seorang peneliti dan pemerhati tanaman obat, mengatakan bahwa keampuhan lidah buaya tak lain karena tanaman ini memiliki kandungan nutrisi yang cukup bagi tubuh manusia. Hasil penelitian lain terhadap lidah buaya menunjukkan bahwa karbohidrat merupakan komponen terbanyak setelah air, yang menyumbangkan sejumlah kalori sebagai sumber tenaga.
Makanan kesehatan
Menurut seorang pengamat makanan kesehatan (suplemen), Dr Freddy Wilmana MFPM SpFK, dari sekitar 200 jenis tanaman lidah buaya, yang baik digunakan untuk pengobatan adalah jenis Aloevera Barbadensis miller. Lidah buaya jenis ini mengandung 72 zat yang dibutuhkan oleh tubuh.
Di antara ke-72 zat yang dibutuhkan tubuh itu terdapat 18 macam asam amino, karbohidrat, lemak, air, vitamin, mineral, enzim, hormon, dan zat golongan obat, antara lain antibiotik, antiseptik, antibakteri, antikanker, antivirus, antijamur, antiinfeksi, antiperadangan, antipembengkakan, antiparkinson, antiaterosklerosis, serta antivirus yang resisten terhadap antibiotik.
Mengingat kandungan yang lengkap itu, lidah buaya menurut Dr. Freddy bukan cuma berguna menjaga kesehatan, tapi juga mengatasi berbagai penyakit. Misalnya, lidah buaya mampu menurunkan gula darah pada diabetesi yang tidak tergantung insulin.
Mengandung Antioksidan
Menurut Dr. Freddy, beberapa unsur mineral yang terkandung dalam lidah buaya juga ada yang berfungsi sebagai pembentuk antioksidan alami. Misalnya vitamin C, vitamin E, dan zinc.
Bahkan hasil penelitian yang dilakukan ilmuwan asal Amerika Serikat menyebutkan bahwa dalamAloevera barbadensis miller terdapat beberapa zat yang bisa berfungsi sebagai antioksidan. Antioksidan itu berguna untuk mencegah penuaan dini, serangan jantung, dan beberapa penyakit degeneratif.
Lidah buaya bersifat merangsang pertumbuhan sel baru pada kulit. Dalam lendir lidah buaya terkandung zat lignin yang mampu menembus dan meresap ke dalam kulit. Lendir ini akan menahan hilangnya cairan tubuh dari permukaan kulit. Hasilnya, kulit tidak cepat kering dan terlihat awet muda.
Selain wasir, lidah buaya bisa mengatasi bengkak sendi pada lutut, batuk, dan luka. Lidah buaya juga membantu mengatasi sembelit atau sulit buang air besar karena lendirnya bersifat pahit dan mengandung laktasit, sehingga merupakan pencahar yang baik.
Sejauh ini, menurut Dr. Freddy, penelitian belum menemukan efek samping penggunaan lidah buaya. Jika ada masalah, itu hanya berupa alergi pada mereka yang belum pernah mengonsumsi lidah buaya.
Yang perlu diingat, menurut Dr. Freddy, sifat tanaman lidah buaya hampir mirip dengan buah apel yang bila habis digigit langsung berwarna cokelat. Hal itu bisa menjadi tanda lidah buaya telah teroksidasi, sehingga beberapa zat yang dikandungnya rusak.
Ramuan lidah buaya
Radang tenggorokan
Cara Meramu: 1 daun lidah buaya dicuci dan dikupas. Isinya dipotong-potong atau diblender. Tambahkan 1 sendok makan madu murni. Minum 3 kali sehari. Ambeien
Cara Meramu: Setengah (1/2) batang daun lidah buaya dibuang durinya, dicuci, lalu diparut. Beri setengah (1/2) gelas air panas, kemudian peras. Tambahkan 2 sendok makan madu. Dalam keadaan hangat, minum 3 kali sehari. Sembelit
Cara Meramu: Setengah (1/2) batang daun lidah buaya dicuci dan dikupas. Isinya dipotong kecil-kecil. Seduh dengan setengah (1/2) gelas air. Beri 1 sendok makan madu. Hangat-hangat dimakan 2 kali sehari.
Diabetes melitus
Cara Meramu: 2 batang daun lidah buaya, dicuci, dibuang durinya, dipotong-potong. Rebus dengan 3 gelas air, lalu saring. Minum 3 kali sehari sesudah makan, masing-masing setengah gelas.
Penurun kadar gula darah
Cara Meramu: 1 pelepah lidah buaya ukuran besar  (kira-kira seukuran telapak tangan) dibersihkan dengan mengupas kulit dan durinya. Rendam sekitar 30 menit dalam air garam. Remas sebentar lalu bilas di bawah air yang mengalir (air kran). Rebus dengan 3 gelas air hingga mendidih. Dinginkan. Minum sebanyak 1/2 gelas, 2 sampai 3 kali sehari.
Penyubur rambut
Cara Meramu: 2 pelepah lidah buaya dicuci lalu kupas. Isinya digosokkan pada kulit kepala yang telah dikeramas pada sore hari. Bungkus dengan kain. Keesokan harinya rambut dibilas. Lakukan setiap hari selama 3 bulan.
Batuk (yang membandel)
Cara Meramu: 20 g daun lidah buaya dicuci, dikupas, dipotong-potong. Beri 2 sendok makan madu murni. Minum 2 kali sehari. Ulangi selama 10 hari.  @Suharso Rahman


Baca selengkapnya...